Jika
aku harus bermegah,
maka
aku akan bermegah atas kelemahanku. (ayat 30)
Dalam
menjalani hidup ini, setiap orang tentu ingin keluar dari segala macam
penderitaan hidup yang dialami. Saya sangat yakin kalau: tidak akan ada orang
yang ingin supaya hidupnya menderita.
Kali ini,
Rasul Paulus mengatakan tentang sesuatu yang kelihatannya berlawanan dengan
keinginan dan perjuangan manusia-manusia sekarang ini. Sekilas tergambar bahwa
“Paulus berbangga tentang penderitaan yang dialaminya”. “Kebodohan” yang
dimaksudkan dalam bagian bacaan kita kali ini, lebih tepat mengarah pada sebuah
kepasrahan diri yang sungguh kepada Yesus Kristus, yang olehNya kita menerima
kesempurnaan.
Dikatakan pada ayat 17: “Apa yang aku katakan, aku mengatakannya
bukan sebagai orang yang berkata menurut Firman Tuhan, melainkan sebagai
seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah”.
Hal ini, bukan berarti Paulus
adalah orang bodoh ! tetapi pernyataan ini, adalah sikap Paulus yang merendah
dihadapan Tuhan sumber Kasih.
Paulus
adalah salah seorang Rasul yang sangat terpelajar, tetapi kerendahan dirinya
adalah wujud dari kesadaran penuh – bahwa tanpa Allah dalam Yesus Kristus, kita
tidak akan memperoleh apa-apa. Paulus sangat berbangga tentang penderitaannya,
dia menyebarkan Injil Yesus Kristus penuh kerelaan, dan bersedia menerima
resiko yang terburuk sekalipun.
Banyak orang
percaya sekarang ini, yang merasa diri pintar, hebat dan punya sesuatu untuk
dibanggakan – tetapi untuk mendengar Pemberitaan Firman beberapa menit saja sudah
bosan;
Persekutuan yang sedang
ditumbuhkembangkan di hiasi juga, dengan orang-orang yang iri hati dan saling
membenci; Diberikan tanggung jawab untuk ini dan itu mengeluh merasa berat, dan
protes tanda tidak setuju, tetapi kalau uang di depan mata langsung setuju ha
ha ha ha ha.
Bagi saya,
tidak ada salahnya kalau orang Kristen mengeluh, tetapi yang salah adalah kalau
keluhan kita itu kemudian melukai dan menyusahkan orang , karena tidak tahan
kalau melihat kebaikan orang lain – dan ini yang sering terjadi.
Bagi Paulus;
Penderitaan dalam melayani Pekerjaan Tuhan adalah kesenangan baginya, meskipun
untuk kebanyakan orang adalah kebodohan. Dengan keyakinan iman yang sungguh; katakana saja, Paulus berani
mengatakan seperti itu, karena dia sendiri telah merasakan Jamahan Tangan
Tuhan.
Kita Semua
diminta untuk bertahan ditengah-tengah dunia yang telah ganas ini, dengan
keyakinan iman yang teguh bahwa: Hanya Allah saja yang bisa membenarkan kita. Dia yang membenarkan kita, adalah Dia jugalah
yang bisa mengampuni kita. Dan Dia yang mengampuni kita, adalah: Dia yang
sungguh mengetahui kelemaahan dan penderitaan kita. Bersama yesus; dalam kelemahan dan seberat
apapun penderitaan yang dialami kita akan dikuatkan untuk bertumbuh dan semakin
kuat dalam Iman, Pengharapan dan Kasih.
Kristus
telah “memecah-mecahkan” tubuhnya dan mencurahkan darahnya demi pendamaian dosa
kita; Bagi “orang yahudi”, ini seperti
kebodohan. Apakah diantara kita ada yang menganggap bahwa persekutuan kasih
yang sedang dibangun bersama Tuhan sekarang ini, adalah sebuah kebodohan ? Saya
kira tidak, dan saudara-saudara pun demikian.
Segala
penderitaan yang sedang dialami didunia ini, dan kehidupan bersama dengan orang
lain – jika dijalani dengan benar, dan takut Tuhan; Ini bukanlah kebodohan,
tetapi kebanggaan yang mengantar kita pada kemenangan yang berpengharapan
bersama Yesus. Bisa kan ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar